Selasa, 27 Agustus 2013

Memancing Dengan Teman

Memancing Dengan Teman


Pagi-pagi yang cerah, mentari pun sudah mulai beranjak, angin-angin juga sudah berlari-lari dengan cepat dan terdengar suara gelombang-gelombang sedang menari-nari kecil disertai kicau-kicau burung, itulah yang aku rasakan saat aku pergi memancing ke sungai, pada hari libur
Sesampainya kami dilokasi yang cukup nyaman untuk kami berdua, setelah itu kami mempersiapkan alat-alat untuk memancing.
Aldi kamu mempersiapkan umpan alat-alat pancingnya”, kataku sambil menepuk pundaknya.
Baiklah.!”, ujarnya dengan tegasnya.
Dia langsung mempersiapkan untuk aku dan dirinya. Setelah semua beres, kami bergegas untuk memulai mencari ikan.
Aldi ayo lomba banyak-banyakkan mendapatkan ikan, siapa yang kalah akan memasak ikannya sesampainya dirumah nanti?”, tantangku dengan percaya diri, sambil memasang umpan.
Kalau kita seri?”, tanyanya.
Ya kita Suit.”, ujarku.
Baiklah, siapa takut”, menjawab dengan sombongnya.
Dan cukup lama kami memancing dengan sabar, kedudukan pun masih 1-1. Mentari pun sudah berjalan ketengah, dan kami belum makan, untung kami tadi mempersiapkan bekal. Kami makan dulu hanya untuk menutupi rasa lapar yang sendari tadi perut kami sudah berteriak. Makan sudah, tinggal mancing lagi, karena tadi belum mendapat ikan lagi dan kami belum berprofesional. Setelah aldi bosan karena belum mendapat ikan, karena itu dia mengeluarkan jurusnya, yaitu jurus asal-asalan.
Aldi, apa yang kamu lakukan?”, tanya ku.
Ahh... berisik !! diam dan lihat sang master beraksi.!”, jawabnya dengan sombongnya.
Lalu dia membuat sebuah gumpalan umpan ikan yang cukup besar, setelah selesai membuatnya segeralah dia melemparkannya dengan sekuat tenaganya, hingga mampu mencapai ketengah sungai.
Sudah cukup lama dia menanti ada ikan yang menghampirinya dan aku sudah mendapatkan satu ikan. Setelah lama menunggu akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga, yaitu ujung pancingnya bergerak-gerak, yang tak lain itu adalah ikan. Dan segera dia menarik pancingnya.
Ahh... berat sekalih, sepertinya ikannya besar nih.?”, ujarnya, sambil kesusahan.
Mau dibantu aldi??”, tanyaku karena agak kasian.
Dah... gak usah, aku bisa sendiri”, menjawab, dengan berlagak sombong.
Sombong kamu”, kataku dengan sedikit rasa nyindir.
Biarin...!”, ujarnya.
Lalu dia membiarkan dulu ikan itu berenang kesana-kemari membiarkan ikan itu lelah dan menyerah dan dia merasa tajut bila benangnya putus.
Tapi bukannya lelah, ikan itu malah berenang menuju pancing bapak-bapak yang sedang memancing juga di seberang sana. Dan akhirnya “BYUR...BYUR...BYUR...”. Suara pancing bapak itu yang terjebur kedalam air. Karena ikut terseret benang pancingnya Aldi yang sendari tertarik ikan tadi. Lalu ikannya itu pun akhirnya terlepas.
Sudah tidak mendapatkan ikan, malah mendapatkan sial, yang cukup membuatnya kecewa dan takut. Aldi pun akhirnya meminta maaf kepada bapak tadi yang pancing kejebur gara-gara Aldi. Dan setelah itu kami pulang dengan rasa takut dan merasah bersalah.
Mangkanya Di jangan sombong... tau kan akibatnya???”, nasehatku.
Iya nih. Aku merasa bersalah, minta maaf ya.” ujarnya.
Iya. Lain kali jangan di ulangi.”, kataku.
Dalam perjalan pulang, aku memutuskan untuk memasak ikannya di rumahku, sekalian menenangkan hatinya Aldi. Aldi pun sepertinya sedikit agak tenang, aku mencoba untuk tidak membuat-Nya tambah hancur, dan aku mencoba untuk melupakan hal kecil itu.
Dah Di jangan takut. Besok kita mancing lagi bagaimana? Tapi di tempat lain, siapa tau nanti ikannya lebih banyak, dan kita berpesta pora”, kataku sambil menangkannya.
Janji ya.”, sambil menunjukkan jari telunjuknya ke saya.
Janji daah..”, ujarku.
Sesampainya dirumahku,aku pun mengajak mandi dulu.
Kamu mandi dulu sana. Aku yang nyiapkan bahan-bahannya.”, seruku.
Oke. Oke”, senangnya.
Aku pun mempersiapkan bahan-bahannya, dan menunggu aldi kerumah aku, aku mandi dulu sekaligus menunggu teman saya kerumah aku. Saat aku sudah selesai mandi, ternyata Aldi sudah ada didepan rumah saya, dan saya persilakan duduk, dan aku ganti pakaian.
Kami pun beranjak kedapur untuk memasak ikan hasil mancing kami tadi. Sedikit sih, tapi cukup untuk mengisi perut kami berdua. Setelah lumayan lama kami memasaknya, ternyata sudah siap. Gak tunggu lama kami melahapnya, dengan rakusnya. Tidak sampai 20 menit, makannya pun sudah selesai.
Besok jangan lupa macing lo ya.”, kataku.
Siap boss...”, sambil hormat.
lebay lo.”, dengan menepis tangannya.
he...he...”, dia tertawa kecil.
Dan itulah kisah saya dengan teman aku yang sombong. Dan jangan sombong jadi orang, kita tidak tau apa yang terjadi nanti.

                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar