Memancing
Dengan Teman
Pagi-pagi yang cerah, mentari
pun sudah mulai beranjak, angin-angin juga sudah berlari-lari dengan
cepat dan terdengar suara gelombang-gelombang sedang menari-nari
kecil disertai kicau-kicau burung, itulah yang aku rasakan saat aku
pergi memancing ke sungai, pada hari libur
Sesampainya kami dilokasi yang
cukup nyaman untuk kami berdua, setelah itu kami mempersiapkan
alat-alat untuk memancing.
“Aldi kamu mempersiapkan umpan
alat-alat pancingnya”, kataku sambil menepuk pundaknya.
“Baiklah.!”, ujarnya dengan
tegasnya.
Dia
langsung mempersiapkan untuk aku dan dirinya. Setelah semua beres,
kami bergegas untuk memulai mencari ikan.
“Aldi
ayo lomba banyak-banyakkan mendapatkan ikan, siapa yang kalah akan
memasak ikannya sesampainya dirumah nanti?”, tantangku dengan
percaya diri, sambil memasang umpan.
“Kalau
kita seri?”, tanyanya.
“Ya
kita Suit.”, ujarku.
“Baiklah,
siapa takut”, menjawab dengan sombongnya.
Dan
cukup lama kami memancing dengan sabar, kedudukan pun masih 1-1.
Mentari pun sudah berjalan ketengah, dan kami belum makan, untung
kami tadi mempersiapkan bekal. Kami makan dulu hanya untuk menutupi
rasa lapar yang sendari tadi perut kami sudah berteriak. Makan sudah,
tinggal mancing lagi, karena tadi belum mendapat ikan lagi dan kami
belum berprofesional. Setelah aldi bosan karena belum mendapat ikan,
karena itu dia mengeluarkan jurusnya, yaitu jurus asal-asalan.
“Aldi,
apa yang kamu lakukan?”, tanya ku.
“Ahh...
berisik !! diam dan lihat sang master beraksi.!”, jawabnya dengan
sombongnya.
Lalu
dia membuat sebuah gumpalan umpan ikan yang cukup besar, setelah
selesai membuatnya segeralah dia melemparkannya dengan sekuat
tenaganya, hingga mampu mencapai ketengah sungai.
Sudah
cukup lama dia menanti ada ikan yang menghampirinya dan aku sudah
mendapatkan satu ikan. Setelah lama menunggu akhirnya yang di
tunggu-tunggu datang juga, yaitu ujung pancingnya bergerak-gerak,
yang tak lain itu adalah ikan. Dan segera dia menarik pancingnya.
“Ahh...
berat sekalih, sepertinya ikannya besar nih.?”, ujarnya, sambil
kesusahan.
“Mau
dibantu aldi??”, tanyaku karena agak kasian.
“Dah...
gak usah, aku bisa sendiri”, menjawab, dengan berlagak sombong.
“Sombong
kamu”, kataku dengan sedikit rasa nyindir.
“Biarin...!”,
ujarnya.
Lalu
dia membiarkan dulu ikan itu berenang kesana-kemari membiarkan ikan
itu lelah dan menyerah dan dia merasa tajut bila benangnya putus.
Tapi
bukannya lelah, ikan itu malah berenang menuju pancing bapak-bapak
yang sedang memancing juga di seberang sana. Dan akhirnya
“BYUR...BYUR...BYUR...”. Suara pancing bapak itu yang terjebur
kedalam air. Karena ikut terseret benang pancingnya Aldi yang sendari
tertarik ikan tadi. Lalu ikannya itu pun akhirnya terlepas.
Sudah
tidak mendapatkan ikan, malah mendapatkan sial, yang cukup membuatnya
kecewa dan takut. Aldi pun akhirnya meminta maaf kepada bapak tadi
yang pancing kejebur gara-gara Aldi. Dan setelah itu kami pulang
dengan rasa takut dan merasah bersalah.
“Mangkanya
Di jangan sombong... tau kan akibatnya???”, nasehatku.
“Iya
nih. Aku merasa bersalah, minta maaf ya.” ujarnya.
“Iya.
Lain kali jangan di ulangi.”, kataku.
Dalam
perjalan pulang, aku memutuskan untuk memasak ikannya di rumahku,
sekalian menenangkan hatinya Aldi. Aldi pun sepertinya sedikit agak
tenang, aku mencoba untuk tidak membuat-Nya tambah hancur, dan aku
mencoba untuk melupakan hal kecil itu.
“Dah
Di jangan takut. Besok kita mancing lagi bagaimana? Tapi di tempat
lain, siapa tau nanti ikannya lebih banyak, dan kita berpesta pora”,
kataku sambil menangkannya.
“Janji
ya.”, sambil menunjukkan jari telunjuknya ke saya.
“Janji
daah..”, ujarku.
Sesampainya
dirumahku,aku pun mengajak mandi dulu.
“Kamu
mandi dulu sana. Aku yang nyiapkan bahan-bahannya.”, seruku.
“Oke.
Oke”, senangnya.
Aku
pun mempersiapkan bahan-bahannya, dan menunggu aldi kerumah aku, aku
mandi dulu sekaligus menunggu teman saya kerumah aku. Saat aku sudah
selesai mandi, ternyata Aldi sudah ada didepan rumah saya, dan saya
persilakan duduk, dan aku ganti pakaian.
Kami
pun beranjak kedapur untuk memasak ikan hasil mancing kami tadi.
Sedikit sih, tapi cukup untuk mengisi perut kami berdua. Setelah
lumayan lama kami memasaknya, ternyata sudah siap. Gak tunggu lama
kami melahapnya, dengan rakusnya. Tidak sampai 20 menit, makannya pun
sudah selesai.
“Besok
jangan lupa macing lo ya.”, kataku.
“Siap
boss...”, sambil hormat.
“lebay
lo.”, dengan menepis tangannya.
“he...he...”,
dia tertawa kecil.
Dan
itulah kisah saya dengan teman aku yang sombong. Dan jangan sombong
jadi orang, kita tidak tau apa yang terjadi nanti.